Tumpang Sari: Sistem, Prinsip, Jenis dan Contoh Tanaman

Tumpang Sari – Sistem tanam tumpang sari atau polyculture merupakan sistem penanaman yang melibatkan satu jenis tanaman dalam satu lahan pertanian dimana terdapat tanaman pokok yang memiliki masa hidup lebih lama hingga  bertahun-tahun kemudian ditanam tanaman lainnya dengan masa hidup lebih pendek.

Penanaman jenis ini memiliki tujuan mengoptimalkan lahan yang tidak terpakai sehingga hasil yang diperoleh lebih maksimal.

Selain mengoptimalkan lahan sistem tumpang sari bertujuan meningkatkan hasil produksi. Jauh sebelum indonesia merdeka sistem tumpangsari telah diperkenalkan di masyarakat,  sistem ini diperkenalkan oleh bangsa belanda kemudian dikembangkan oleh deandles yang kala itu menjabat sebagai gubernur di indonesia.

Contoh Sistem Tanam Tumpang Sari via Wikipedia
Contoh Sistem Tanam Tumpang Sari via Wikipedia

Prinsip Manajemen Pola Tanaman Tumpang Sari

Pada dasarnya bertani atau bercocok tanam dilakukan sebagai mata pencaharian untuk menopang perekonomian keluarga namun sistem tumpangsari ini dilakukan bukan hanya sekedar mencari nafkah namun juga terdapat sistem manajemen keuangan, serta pemanfaatan waktu yang lebih baik dibanding sistem penanaman biasa.

Sistem tumpang sari memiliki manajemen yang baik  dimana manajemen keuangan yang melekat pada masa panen, manajemen waktu yang melekat pada masa tanam  dan panen,  pengaturan sumber daya air, matahari, serta hara, dan prioritas pada pemeliharaan tanaman, lahan dan bibit yang termanajemen dengan baik.

Pengertian Tumpang Sari

Tumpang sari terdiri dari dua kata yakni tumpang dan sari dimana dari kata tersebut kita bisa mengartikan tumpang yang berarti pendamping, sari yang berarti utama.dari kedua kata tersebut berarti ada  yang utama dan ada yang mendampingi. Jika tumpangsari diartikan dalam dunia pertanian berarti ada tanaman pokok dan ada tanaman pendamping.

Tumpang sari dapat diartikan penanaman lebih dari satu jenis tanaman pada satu lahan dengan tanaman pokok yang memiliki masa hidup lebih lama dibandingkan tanaman penumpang, dengan tujuan pengoptimalan lahan dan waktu.

Pada sistem tumpangsari tanaman pendamping tidak akan mengganggu tanaman pokok. Petani juga akan mendapat nilai produksi yang lebih tinggi dengan lahan yang ada. Kedua tanaman yang ditumpangsarikan tidak akan saling mengganggu, dimana tanaman utama tetap memiliki masa panen sesuai target sedang tanaman tumpang sari tetap tumbuh sebagai mana mestinya.tentunya sistem ini lebih menguntungkan dibanding tanam tunggal.

Jenis Tumpang Sari Tanaman

Sistem tumpang sari dapat digolongkan menjadi 3 macam, seperti:

1. Sistem Cocok Tanam Tumpang Sari

Sistem tumpang sari yang diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi dengan penanaman dua jenis tanaman yang berbeda baik secara bersamaan maupun berselang antara tanaman inti dan tanaman tumpang dengan membentuk deretan-deretan lurus untuk tanaman yang ditanam secara berseling pada satu bidang tanah. Pada umumnya pemilihan tanaman tumpangsari ini merupakan tanaman semusim.

Beberapa contoh sistem cocok tanam tumpang sari:

  • Tomat dengan cabai
  • Jagung dengan tomat
  • Jagung dengan kacang hijau
  • Jagung dengan kacang tanah
  • Tembakau dan kubis
  • Tembakau dan cabai
  • Bawang merah dan cabai
  • Mentimun dan cabai
  • Papaya dan kacang tanah

2. Sistem Cocok Tanam Tumpang Gilir

Sistem tumpang sari secara umum yang kedua adalah sistem gilir dimana penanaman tumpangsari atau tanaman utama ditanam sebelum tanaman utama dipanen. Sehingga hasil produksi atau hasil panen tidak putus.

Setelah tanaman pokok atau utama panen maka tanaman kedua juga akan segera panen sebab tanaman kedua kedua memiliki masa panen yang relatif singkat, selain itu penghematan yang paling menonjol adalah dari segi pengolahan tanah yang dikerjakan dalam satu waktu sebelum penanaman dilakukan.

Beberapa contoh cocok tanam tumpang sari gilir

  • Kubis dengan melon
  • Kubis dengan kacang panjang
  • Mentimun atau kacang panjang dengan cabai
  • Jagung dengan kacang panjang atau kacang koro

3. Sistem Cocok Tanam Tumpang Sela

Untuk jenis yang satu ini menerapkan tumpangsari pada tanaman pokok yang memiliki masa hidup bertahun-tahun dengan tanaman semusim.  Namun sistem ini biasa dilakukan pada saat tanaman pokok masih kecil atau belum  produktif.  Sebagai contoh yang paling sering kita temui adalah pada perkebunan kelapa sawit, karet serta kakao.

Beberapa contoh tanaman tumpang sela

  • Karet dengan cabai
  • Karet dengan mentimun atau tomat
  • Kelapa sawit dengan cabai
  • Kelapa sawit dengan tomat
  • Karet dengan melon
  • Kakao dengan cabai
  • Kakao dengan kacang panjang
  • Kakao dengan kacang tanah

Kelebihan Sistem Tanam Tumpang Sari (POLYCULTURE)

Berikut ini beberapa kelebihan menanam dengan sistem tumpang sari:

  • Memperoleh beberapa kali panen dengan jenis tanaman yang berbeda sehingga hasil produksi bisa maksimal dengan hanya memanfaatkan satu lahan sempit.
  • Dilihat dari segi pengolahan lahan, pemupukan, perawatan serta tenaga sangat kecil karena dilakukan secara bersamaan sehingga dapat menekan biaya produksi
  • Setiap tanaman memiliki harga jual yang berbeda sehingga keuntungan yang diperoleh juga maksimal dari setiap jenis tanaman
  • Jika salah satu tanaman mengalami kerugian atau gagal panen makan jenis tanaman lain dapat menutupi kerugian
  • Perawatan lahan atau pun tanaman bisa dilakukan secara berbarengan.
  • Kita juga bisa memaksimalkan unsur hara yang terkandung di tanah membuat kedua tanamanbisa berkembang dengan baik serta menurunkan resiko tumbuhnya gulma tanaman

Metode Pemilihan Tanaman yang Akan Ditanam

Saat  kita akan menerapkan sistem tanam tumpang sari ada beberapa hal yang harus kita perhatikan seperti kondisi iklim, serta kesesuaian lahan yang akan kita pakai dengan membuat tanaman yang paling prospektif, sebab pada setiap daerah memiliki kondisi yang berbeda-beda.

Setelah melihat kondisi diatas kita bisa memutuskan tanaman terbaik yang akan kita tumpangsari. Ketika kita akan menerapkan sistem cocok tanam tumpang sela kita harus memperhatikan kondisi musim atau iklim antara tanaman tahunan dengan tanaman semusim.

Contoh Tanaman Tumpang Sari Jagung-Kedelai

Tumpang Sari Jagung dan Kedelai
Tumpang Sari Jagung dan Kedelai

1. Jagung dan Kedelai

Sebagai contoh tanaman tumpang sari yang akan kita bahas adalah tumpangsari jagung dengan kedelai seperti berikut :

Perkembangan industri yang semakin modern membuat para petani semakin tersingkirkan. Jika dalam dunia pertanian tidak melakukan berbagai inovasi maka para petani kita akan semakin terpuruk. Untuk itu sistem tumpangsari ini dapat membantu meningkatkan nilai ekonomi sebuah tanaman. Salah satu contohnya adalah tumpang sari jagung dan kedelai dengan sistem legowo 2:1.

Cara ini dilakukan dengan merapatkan dua baris tanaman dan memberi ruang pada tiap dua baris untuk tanaman kedelai. Cara ini tidak akan menurunkan hasil panen jagung bahkan akan semakin tinggi dibanding pertanaman baris tunggal.

Dari tiap baris tunggal yang disisakan dapat ditanami dua baris tanaman kedelai. Cara ini akan semakin meningkatkan hasil panen petani baik jagung maupun kedelai. Selain itu kandungan fiksassi N pada kedelai mampu meningkatkan kesuburan tanah sehingga kedua tanaman tumpangsari akan terawat dengan baik.

Pemilihan lahan untuk sistem ini juga tidak sulit sebab dapat dilakukan pada lahan kering dengan pengolahan dan pemupukan yang maksimal serta dapat pula pada lahan persawahan dengan ketersediaan sumber air yang cukup.

Cara budidaya

Jumlah benih yang dibutuhkan 15 †17 kg/ha menggunakan varietas hibrida bertipe tegak, bima-2, bisi-16, bima-4, serta pioner-21. Saat membeli bibit pastikan tanggal kadar luarsa serta memiliki daya kecambah 90 % serta vigol benih yang baik.

Setiap lubang tanaman pokok atau jagung diberi 1 biji kemudian ditutup dengan pupuk organic 1 genggam. Untuk jarak tanam sistem legowo ini adalah (100-50) cmx20cm atau(110-40) cmx20 cm. untuk pemupukan diberikan 2 kali hingga masa panen tiba dengan takaran lahan sawah 350 kg urea+300 kg phonska.

Untuk pemupukan kedua bisa dilakukan pada 35-45 hst, dengan pemberian lubang sedalam 10 cm di samping tanaman kemudian ditutup dengan tanah dengan takaran 250 kg urea perhektar. Penanaman bisa dilakujan dengan cangkul atau benda pertanian lainnya. Jika pangkal biji telah terlihat dan kelobot sudah kering maka jagung siap dipanen.

Untuk tanaman kedua atau tanaman kedelai,untuk jumlah benih yang dibutuhkan 15-20 kg/ha dan gunakan varietas kedelai yang toleran naungan, seperti dena-1 dan dena-2. Kemudian campur bibit dengan inokulan rhizobium sp 5 kg benih per 10 g.

Sebelum bibit ditanam basahi bibit lalu tiriskan dan campur dengan dengan inokulan rhizobium lalu aduk hingga rata kemudian bibit siap ditanam.  Penanaman kedelai pada sistem legowo disela-sela jagung dengan jarak tanam 40 cm x 20 cm.

Sebelum polong pecah sebaiknya kedelai segera dipanen atau saat polong berwarna coklat dan sebaiknya kedelai dipanen lebih awal dari pada jagung.

Perawatan Tanaman

Untuk perawatan pada sistem tumpang dari ini pada dasarnya sama dengan sistem penanaman lain yakni memperhatikan nutrisi pada tanah yang dibutuhkan tanaman dengan cara pemupukan, penyiangan sera pengairan yang cukup. Selain itu pemeliharaan tanaman dari gulma, hama atau penyakit lainnya juga harus kita perhatikan, serta keamanan lingkungan lainnya.

****

Demikianlah pembahasan mengenai sistem tanam tumpang sari sebagai modal untuk meningkatkan nilai produksi suatu lahan. Semoga bermanfaat. Jangan lewatkan juga: Panduan Cara Menanam Jagung Manis Organik

loading...
loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *