Pupuk Paket Padi NASA agar Panen Raya

Paket Padi NASA – Padi adalah tanaman pangan yang memiliki peran sangat penting di berbagai belahan dunia. Padi merupakan tanaman penghasil beras yang tergolong pada jenis tanaman Poaceae atau rumput-rumputan.

Meningkatnya permintaan pasar terhadap beras membuat peran budidaya tanaman padi semakin penting untuk, terutama di negara Indonesia. Hal ini karena Indonesia termasuk negara pengonsumsi beras paling besar di dunia.

Budidaya tanaman padi sebenarnya sangat mudah untuk dilakukan. Namun, ada salah satu tantangan dalam budidaya padi yang seringkali muncul, yaitu menurunnya produktivitas lahan akibat penerapan teknik budidaya padi yang tidak tepat. Banyak petani yang tidak mempertimbangkan faktor lingkungan serta tidak bersifat berkelanjutan.

PT Natural Nusantara dalam hal ini ikut berperan penting dalammencapai ketahanan pangan nasional Indonesia. Caranya dengan meningkatkan produksi padi dengan asas kualitas, kuantitas, dan kelestarian.

PT Natural Nusantara atau lebih dikenal dengan NASA, memiliki beberapa paket pupuk untuk tanaman padi. Pemupukan padi menggunakan pupuk NASA terbukti bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panen.

Bukan itu saja, kondisi lahan pertanian juga tetap terjaga kesehatannya. Lantas, bagaimana paket padi NASA agar hasil panen bisa melimpah?

Paket Padi NASA
Ilustrasi: Paket Padi NASA

Teknik Budidaya Tanaman Padi

Padi tumbuh dengan baik pada wilayah dengan ketinggian 0-1500mdpl dan dengan temperatur 19-27°C. Tanaman padi membutuhkan penyinaran matahari seharian penuh  tanpa adanya naungan.

Angin juga sangat berperan pada proses penyerbukan serta pembuahan padi. Tanaman padi ini menghendaki tumbuh di tanah lumpur subur dengan ukuran ketebalan 18-21 cm serta memiliki pH tanah sekitar 5-7.

Berikut ini adalah rangkaian teknik budidaya tanaman padi dengan menggunakan paket pupuk NASA:

1. Perendaman Benih

Benih padi direndam menggunakan air dan POC NASA dengan dosis 2 cc pupuk per liter air. Perendaman benih dilakukan selama 6-12 jam. Setelah direndam, tiriskan benih dan dimasukan ke dalam karung.

Jika ada benih yang mengambang sebaiknya dibuang. Selanjutnya, benih diperam dengan daun pisang dan dimasukkan ke ember besar selama 1 hingga 2 malam sampai benih padi berkecambah secara serempak.

2. Penyemaian

Persemaian padi diairi secara berangsur hingga tinggi 3-5 cm. Setelah bibit padi berusia 7-10 hari serta 14-18hari, tanaman padi mulai disemprot menggunakan POC NASA. Dosis yang digunakan adalah 36 cc per tangki

3. Pemindahan Benih

Bibit yang telah siap untuk dipindah untuk kemudian ditanam ke lahan sawah adalah bibit yang sudah berusia sekitar 21-35 hari. Ciri-cirinya adalah memiliki daun minimal 5-7 helai, batang bagian bawah sudah cukup besar dan kuat, tidak terkena hama penyakit, serta pertumbuhannya seragam.

4. Pemupukan

Pemupukan dilakukan menggunakan dosis pupuk yang tepat dan sesuai dengan hasil yang diharapkan. Semua jenis pupuk makro untuk tanaman padi dicampur sampai merata, lalu disebarkan pada lahan sawah sesuai dengan dosis yang dianjurkan.

Khusus pada penggunaan Hormonik dapat dicampur bersama POC NASA, kemudian disemprot ke tanaman padi. Dosis yang dianjurkan adalah 3-5 tutup POC NASA ditambah dengan 1 tutup Hormonik untuk setiap tangkinya.

Hasil pemupukan akan sangat bervariasi tergantung dari jenis varietas padi yang ditanam, jenis dan kondisi tanah, serta adanya serangan hama penyakit pada tanaman.

5. Pengolahan Lahan

Proses pengolahan lahan bisa dilakukan secara ringan pada saat padi usia 20 hari setelah tanam. Proses ini bertujuan agar sirkulasi udara di dalam tanah bisa terjaga, yaitu dengan membuang gas-gas beracun serta menyerap lebih banyak oksigen.

6. Penyiangan

Penyiangan dilakukan terhadap rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar lahan sawah yang ditanami padi. Rumput liar yang biasanya tumbuh di sawah misalnya rumput teki, jajagoan, enceng gondok, dll. Penyiangan sebaiknya dilakukan sebanyak 3 kali, yaitu saat padi umur 24,35,serta 55 hari.

7. Pengairan

Pengairan merupakan teknik yang sangat wajib dilakukan dalam budidaya tanaman padi. Penggenangan air ini harus dilakukan pada masa awal pertumbuhan padi di sawah.

Terutama pada saat pembentukan anakan, masa pembungaan, serta masa bunting. Pada saat akan melakukan pengairan padi di sawah, jumlah air harus sangat diperhatikan serta disesuaikan dengan umur padi. Kedalaman air sawah sebaiknya diatur mengikuti cara berikut ini:

  • Tanaman berumur 0-8 hari kedalaman air cukup 5 cm.
  • Tanaman berumur 8-45 hari kedalaman air hingga 10-20 cm.
  • Tanaman padi yang telah membentuk bulir serta sudah mulai menguning kedalaman air ditambah sampai 25 cm. Selanjutnya, airpada sawah dikurangi perlahan sedikit demi sedikit.
  • 10 hari sebelum masa panen, sawah dikeringkan dari air sama sekali. Tujuannya supaya padi bisa masak serentak dan bersama-sama.

Pengendalian Hama Penyakit Tanaman Padi

Padi di sawah sangat rentan terhadap serangan berbagai jenis hama dan penyakit. Nah, berikut ini adalah beberapa hama penyakit pada tanaman padi serta solusi untuk menanganinya:

1. Penyakit Padi Thrips (Thrips oryzae)

Gejala penyakit ini ditandai dengan daun padi yang menggulung serta berwarna kuning kemerahan, pertumbuhan bibit menjadi terhambat, dan gabah pada tanaman dewasa tidak berisi. Pengendalian penyakit ini bisa dilakukan dengan menggunakan BVR dan PESTONA.

2. Wereng

wereng merupakan hewan yang menyerang batang padi. Ada banyak sekali jenis wereng yang seringkali menjadi hama tanaman padi, mulai dari wereng cokelat, putih, hingga wereng hijau.

Wereng merusak tanaman padi dengan menghisap cairan pada batang padi serta menularkan virus. Gejala yang terjadi berupa tanaman menjadi menguning dan mengering, tanaman seperti terbakar, hingga tanaman menjadi kerdil.

3. Hama Putih (Ntmphula depunctalis)

Gejala hama putih yang menyerang daun bibit padi adalah terjadinya kerusakan berupa titik-titik memanjang yang sejajar dengan tulang daun serta banyak ulat menggulung bagian daun padi.

Pengendalian dapat dilakukan dengan pengaturan air secara baik, pemakaian bibit sehat, serta melepaskan musuh-musuh alami. Selain itu, bisa juga menggunakan BVR dan PESTONA. 

4. Walang Sangit (Leptocoriza Acuta)

Walang sangit umumnya menyerang buah padi yang telah masak susu. Gejala yang terjadi adalah buah menjadi hampa serta kualitasnya rendah. Buah padi akan berkerut, berwarna cokelat, ada bercak-bercak bekas hisapan, serta pada bulir padi terdapat bintik-bintik hitam. Penyemprotan dengan BVR atau PESTONA bisa mengatasi hama ini.

5. Penyakit Fusarium

Jamur Fusarium  moniliforme merupakan penyebab dari penyakit ini. Gejalanya menyerang bagian biji muda dan malai menjadi berwarna kecokelatan, akar membusuk, dan daun terkulai.

Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan cara merenggangkan jarak antar tanaman padi. Selain it, sangat wajib untuk mencelupkan benih ke dalam POC NASA serta disebari GLIO ketika sudah di lahan sawah.

—–

Panen padi dapat dilakukan saat bulir padi secara keseluruhan sudah menguning. Biasanya, masa panen padi adalah 33-36 hari seusai tanaman padi berbunga. Pemanenan bisa dilakukan dengan teknik manual, yaitu menggunakan sabit untuk memotong pangkal batang padi.

Namun, bisa juga panen menggunakan mesin reaper harvester supaya lebih menghemat waktu. Panen sebaiknya dilakukan secara serentak pada satu lahan supaya mengurangi risiko tanaman padi sisanya terserang hama.

Demikian itulah informasi tentang teknik budidaya tanaman padi dengan memanfaatkan paket padi NASA yang manfaatnya sangat luar biasa.

Baca juga: Rahasia Pupuk Untuk Padi Bunting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *