Cara Budidaya Ikan Patin

Ternak Patin – Bagi kalian yang sering mengonsumsi ikan, pasti sudah tidak asing dengan yang namanya ikan patin. Ikan yang memiliki bentuk tubuh yang hampir sama dengan ikan lele ini memang sedang diminati oleh masyarakat.

Ikan patin dan ikan lele memang digolongkan kedalam jenis catfish, jadi tak heran jika keduanya memiliki postur tubuh yang mirip. Keduanya juga termasuk kedalam golongan hewan nocturnal atau aktif di malam hari.

Namun, perbedaan antara ikan lele dan ikan patin adalah pada nilai jualnya. Ikan patin memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan dengan ikan lele. Ikan patin merupakan jenis ikan konsumsi air tawar yang tergolong mudah pembudidayaannya.

Pasalnya ikan patin dapat dibudidayakan di semua jenis kolam dengan sarana yang memadai. Budidaya atau ternak patin sekarang juga sudah mulai diminati dan sudah dijalankan oleh sebagian besar masyarakat.

Jika kalian pernah menjalankan ternak lele, maka teknik dan metode pemeliharaan ikan patin juga hampir sama. Bisnis budidaya ikan patin ini cukup menjanjikan karena permintaan pasar terhadap ikan ini tergolong tinggi.

Banyak masyarakat yang menyukai ikan ini karena dagingnya yang lembut dan gurih. Selain itu, ikan patin juga mengandung banyak gizi, seperti protein, asam lemak esensial DHA dan EPA yang bagus untuk kesehatan tubuh manusia. Jadi budidaya ikan patin selain menguntungkan juga bermanfaat bagi kesehatan.

Nah bagi kalian yang ingin membudidayakan ikan jenis ini, kalian tidak perlu khawatir akan memakan banyak biaya. Pasalnya ikan ini bisa dibudidayakan di sekitaran rumah yang tidak memerlukan lahan yang begitu luas.

Ternak patin juga bisa dilakukan dengan mengunakan 2 metode, yakni metode kolam terpal plastik dan metode kolam beton. Kalian bisa memilih metode yang tepat dan sesuai dengan modal yang kalian miliki. Untuk lebih jelasnya, kalian bisa simak informasi dibawah ini ya guys!

Ikan Patin
Ikan Patin

Budidaya Ikan Patin dengan Metode Kolam Terpal

Ternak Ikan Patin di Kolam Terpal
Ilustrasi: Ternak Ikan Patin di Kolam Terpal

Budidaya ikan menggunakan kolam terpal memang sudah sangat populer dan sering diterapkan terutama pada ikan lele. Nah, metode ini juga bisa diterapkan ketika budidaya ikan patin. Metode kolam terpal ini memang sangat praktis dan bisa menekan biaya ataupun modal. Selain itu, proses pembuatan yang sederhana akan memudahkan dalam membangun kolam ini. Bagaimana? Tertarik mencobanya?

Namun jika kalian menggunakan kolam terpal ini, ada beberapa hal yang harus kalian perhatikan agar ikan patin tetap sehat dan kolam tetap awet, yakni :

Kadar pH dalam Air Kolam

Hal pertama yang harus kamu perhatikan adalah kadar pH di dalam air. Setelah kolam jadi dan diisi dengan air, jangan langsung menebar bibit patin ke kolam. Sebaiknya tunggulah beberapa hari setidaknya 1-2 minggu sampai kadar airnya tidak asam.

Air sumur ataupun air PAM mungkin mengandung tingkat keasaman yang tinggi yang tidak baik untuk kelangsungan hidup ikan. Selain itu, hal tersebut juga bertujuan untuk menghindari racun yang mungkin saja masih menempel pada terpal.

Namun sebelumnya, ketika mengisi kolam dengan air, isilah secara bertahap dan jangan langsung penuh. Kalian bisa memulainya dari 20 cm atau kira-kira setengah terpal. Hal ini berfungsi untuk mengecek keadaan terpal, posisinya sudah pas atau mungkin ada kebocoran pada terpal.

Kondisi Air

Hal yang harus diperhatikan berikutnya adalah untuk menjaga kondisi air kolam agar tetap bersih dan tidak berlumpur. Meskipun tergolong ikan yang sama lele dan patin berbeda, lele lebih suka kolam yang berlumpur sedangkan patin tidak menyukai lumpur. Jadi sebaiknya kalian mengganti air kolam secara rutin agar ikan patin tetap sehat.

Pakan

Hal terpenting ketika budidaya ikan patin adalah pemberian pakan atau makanan. Berilah ikan dengan pakan yang cukup dan sesuai kebutuhannya saja. Jangan memberikan pakan yang berlebihan karena akan membuat kolam cepat keruh dan kotor. Kandungan protein dari pelet yang tidak termakan juga akan menurunkan kualitas air lho.

Kondisi Terpal

Jika kalian menggunakan kolam terpal, maka kalian harus sering mengecek kondisi terpal tersebut. Mungkin saja ketika hujan air akan membludak atau mungkin terpal mengalami kebocoran dan rusak. Jika kalian ceroboh dan tidak mengawasi secara rutin, maka hal-hal buruk mungkin saja terjadi pada kolam kalian.

Metode Budidaya dengan Metode Kolam Beton

Ternak Patin Kolam Beton via Bulelengkab.go.id
Ternak Patin Kolam Beton via Bulelengkab.go.id

Selain kolam terpal, kalian juga bisa menggunakan metode kolam beton yang kuat dan tahan lama. Namun biaya yang diperlukan jika menggunakan metode ini juga cukup tinggi. Meskipun mahal, kolam ini bisa difungsikan secara permanen dan dijamin awet lho.

Bagi kalian yang masih memiliki modal yang minim, kalian bisa mencoba untuk budidaya dengan kolam terlebih dahulu kemudian pindah ke kolam beton secara bertahap.

Ada dua tipe kolam beton yang bisa kalian pilih sebagai referensi. Yang pertama adalah tipe kolam gali seperti kolam ikan pada biasanya dan yang kedua adalah tipe kolam yang dibuat diatas tanah tanpa penggalian kolam. Kedua kolam ini memiliki kelebihan masing masing, yakni :

Kolam Beton Tipe Gali

Biasanya kolam tipe ini dibangun sesuai sumber air yang digunakan. Jika menggunakan sumber air dari sungai, maka kolam yang dibuat juga lebih rendah dari dari permukaan tanah. Karena itu, penggalian kolam diusahakan dilakukan pada musim kemarau saat air sungai surut agar memenuhi batas minimal air untuk budidaya.

Selain itu, memakai air sungai membuat kalian juga tidak  perlu melakukan penyedotan air dengan menggunakan pompa air mekanik.

Kolam Beton Tipe Permukaan

Tipe kolam ini biasanya diterapkan pada area dengan lahan cadas berbatu atau lahan pekarangan yang dikeraskan. Hal itu dilakukan agar mengurangi biaya jika dibandingkan dengan kolam gali. Sumber air yang bisa dimanfaatkan adalah air sumur gali maupun sumur bor.

Penggunaan air PAM sangat tidak disarankan terutama di daerah perkotaan karena air PAM mengandung bahan kimia yang cukup tinggi dan tidak baik untuk kelangsungan hidup ikan. Namun apabila terpaksa, bisa digunakan tapi kalian harus menetralisisir air tersebut dari bahan kimia yang terkandung didalamnya.

Keuntungan jika menggunakan kolam beton ini adalah kemudahan dalam sistem pengairan antara air masuk dan air keluar yang memudahkan untuk menguras air dan membuang air kolam saat panen tiba. Selain itu, endapan lumpur yang tidak disukai ikan patin bisa dilihat dan dibuang dengan mudah.

Karena kontruksi kolam tembok beton ini sangat kuat, maka kegagalan panen akibat kerusakan kolam akan sangat minim. Namun karena sifat kolam yang permanen, maka desain dan perhitungan ketika membangun kolam ini harus tepat dan sesuai kebutuhan.

Hal tersebut dimaksudkan untuk menyesuaikan antara modal dan hasil yang diperoleh. Untuk membangun kolam beton ini juga harus memperhatikan beberapa hal seperti kedalaman kolam, luas kolam dan sirkulasi air. hal tersebut harus diperhitungkan dan disiapkan secara matang untuk menghasilkan kolam yang ideal yang akan memaksimalkan hasil yang diperoleh.

Konstruksi Kolam Ideal

Baik itu kolam terpal atau kolam beton, anda sebaiknya mengikuti konstruksi ukuran dari kolam patin berikut ini:

Kedalaman Kolam

Hal pertama yang harus kita perhatikan adalah dari dalam kolam ikan patin, dimana ikan patin sendiri panen pada masa 5 bulan atau lebih, usahakan agar tinggi kolam lebih dari 1 meter, atau idealnya 1 – 1,5 meter.

Jika tinggi kolam kurang dari 1 meter, maka ikan cenderung akan stress sehingga pertumbuhan akan terganggu. Apalagi kolam yang rendah bisa membuat pemangsa seperti kucing bisa menjangkau ikan. Selain itu, kolam yang tidak tinggi sisa dindingnya rawan ikan akan lompat. Namun, untuk mengatasi ikan melompat anda bisa menambahkan jaring atau paranet.

Luas Kolam

Selain memperhatikan tinggi kolam, anda juga harus memperhatikan luas kolam yang anda buat. Idealnya, ikan patin itu hidup pada ukuran 1 meter kubik sebanyak 25 ekor. Jadi untuk kolam berukuran 10 x 10×1 atau 100 m3, maka anda bisa memasukkan ikan patin sebanyak 25×100 atau 2.500 ekor bibit ikan.

Saluran Air

Hal berikutnya yang mesti anda perhatikan juga adalah saluran air. Dimana ikan patin sangat tidak cocok hidup di tempat yang keruh dan berbau, ikan patin membutuhkan air yang jernih dan tanpa endapan, sehingga anda sebaiknya membuat saluran khusus untuk pembuangan.

Anda bisa membuat konstruksi kolam center drain, dimana anda membuat saluran lubang pembuangan pada bagian tengah.

Drainase Kolam Ikan Terpal
Drainase Kolam Ikan Terpal

Sebelum andan membuat kolam baik itu terpal ataupun beton, sebaiknya anda menggali sedikit bagian tengah kolam, nah, bagian tengah yang lebih dalam itu kemudian atau buat saluran pembuangan kolam. Kalau dengna terpal anda melubangi bagian tengah terpal kemudian pasangkan pipa ukuran 2 inch atau sesuai kebutuhan, kemudian anda ikan dengan karet.

Jadi bagian pipa ini ada bagian buka tutupnya di samping kolam nantinya. Sehingga jika anda ingin membuat air, anda tinggal mencabutnya. Jangan lupa untuk memasang jaring di bagian sambungan pipa dan terpal, karena ikan bisa ikut hanyut ketika anda membuat air.

Kalau pada kolam semen, membuatnya cukup mudah. Karena anda tinggal memasang pipa pembuangan pada bagian tengah kolam.

Jadi anda tidak perlu menguras kolam jika ingin mengganti air, anda cukup membuka pipa saluran pembuangan, kemudian air akan keluar beserta kotoran di bagian bawah kolam kemudian anda tambahkan air yang baru.

Panduan Cara Ternak Ikan Patin

Nah, sekarang mari kita bahas step by step cara ternak ikan patin. Ikan patin sendiri di panen mulai dari umur 5 bulan, namun terkadang ada juga permintaan dengan bobot mulai dari 200 gr atau sesuai permintaan,

Biasanya, ikan yang berumur 6 bulan sudah mencapai berat 600 gram hingga 700 gram sehingga sudah layak panen. Berikut ini step by step cara ternak ikan patin yang sebaiknya anda ikuti:

1. Persiapan Kolam

Tahap pertama yang mesti anda lakukan anda mempersiapkan kolam untuk memelihara ikan. Mengenai bentuknya silahkan ada pilih seperti yang sudah saya jelaskan di atas!

Kolam Terpal

Untuk anda yang memilih kolam terpal, sebaiknya terpal yang akan anda gunakan anda cuci terlebih dahulu. Pertama anda cuci dengan cara menggosok dengan menggunakan beros atau kalau sulit anda bisa dengan menggunakan sapu rumah.

Jangan terlalu kuat, karena bisa sobek. Pastikan anda sudah membersihkan terpal dari zat-zat kimia yang menempel. Setelah kira-kira bersih barulah anda buat konstruksi kolam dengan terpal.

Setelah kolam jadi, langkah selanjutnya adalah merendam kolam. Isi kolam dengan air sekitar 50 cm saja, kemudian biarkan selama 3 hari, lalu buang air tersebut.

Isi lagi kolam terpal anda dengan air kemudian pupuklah kolam anda dengan kompos atau Em4. Kalau saya pribadi lebih suka dengan pupuk kompos karena lebih alami, dan nanti warna kolam kita jadi cantik warna airnya, menghijau.

Untuk takaran pupuk sendiri tidak usah terlalu banyak. Sekitar seperempat kilo kompos per meter persegi. Kemudian anda masukkan ke dalam karung, jangan lupa bolong-bolongi karung dengan menggunakan paku.

Untuk EM4, anda bisa menambahkan ke dalam ember air dengan takaran 2 tutup per meter kubik. Lalu guyur ke semua kolam secara merata ya.

Jika warna air sudah hijau itu artinya kolam sudah siap digunakan, dimana sudah banyak hidup mikroorganisme yang merupakan makanan alami dari benih ikan patin nantinya.

Kolam Beton

Untuk kolam beton, begitu kolam sudah selesai maka biarkan kolam sampai benar-benar kering 3 hari setelah anda aci. Setelah itu, tambahkan air sampai 50 cm, lalu cacahlah gedebog pisang, masukkan ke dalam kolam, lalu biarkan selama seminggu.

Selain dengan mencacah gedebog pisang, anda juga bisa menggosok tembok semen dengan gedebog pisang secara langsung sebelum ditambahkan air. Setelah anda tambahkan air, anda cacah juga gedebog pisang, biarkan seminggu.

Tindakan ini bertujuan untuk mensterilkan kolam dari zat-zat berbahaya yang dapat membunuh bibit ikan patin kita nantinya.

Setelah seminggu, air kolam sudah membusuk dan anda sudah melihat hewan-hewan kecil, maka buang air. Langkah selanjutnya anda cuci kolam dengan air bersih.

Setelah kolam bersih, maka tambahkan kembali air bersih, kemudian anda pupuk kolam. Sama dengan cara di atas bisa dengan pupuk kandang atau EM4.

2. Menyebarkan Benih Ikan Patin

Untuk menyebarkan benih ikan patin, sebaiknya anda lakukan pada sore atau pagi hari. Jangan siang hari karena ikan bisa stress langsung ke panasan. Sebarkan benih secara perlahan ke dalam kolam.

Untuk benih sendiri bisa anda beli atau anda lakukan pembenihan sendiri. Kalau anda beli tentu cukup sampai disini saja, ketika sudah anda sebar benih sudah selesai. Untuk anda yang melakukan pembenihan sendiri maka langkah pertama yang harus anda lakukan adalah menyeleksi indukan. Untuk lebih jelasnya, silahkan anda ikuti tahapan berikut ini:

#Tahap Pembibitan Ikan Patin

Untuk menghasilkan benih unggul sebaiknya anda pilih calon indukan yang sehat dan memiliki kualitas yang baik. Anda juga harus merawat indukan patin agar siap untuk dipijah.

Perawatan indukan dimulai dari pemberian pakan dengan kandungan protein tinggi. Selain itu, indukan juga harus diberi rucah dua kali dalam seminggu dengan jumlah 10% dari total bobot ikan. Hal ini bertujuan untuk mempercepat proses kematangan gonad.

#1. Persiapan Indukan Patin

Adapun ciri-ciri indukan patin yang siap untuk dipijahkan antara lain:

Indukan Ikan Patin Betina

  • Untuk usia, indukan betina yang sudah siap dipijahkan yaitu yang sudah berumur 3 tahun dengan bobot 1,5-2 kg
  • Jika kita lihat perutnya makan terlihat membesar dengan posisi mengarah ke anus
  • Perut ikan terasa empuk dan halus ketika di raba
  • Kloaka berwarna merah dan bengkak
  • Kulit perut terasa lembek dan tipis
  • Ciri terakhir, saat ditekan pada kloaka akan mengeluarkan telur

Indukan Ikan Patin Jantan

  • Untuk indukan jantan berumur minimal 2 tahun dengan bobot sekitar 1.5-2 kg
  • Pada kulit perutnya terasa lembek dan tipis
  • Jika perutnya diurut ke bawah, maka akan mengeluarkan cairan sperma berwarna putih
  • Anda akan melihat kelamin terlihat bengkak dan berwarna merah tua
#2. Persiapan Hormon Perangsang Ikan Patin
Hormon Perangsang Ikan Patin
Hormon Perangsang Ikan Patin

Tahap selanjutnya adalah dengan memberikan ikan patin betina hormon perangsang. Anda bisa membelinya di toko pertanian atau penjual alat ikan terdekat. Ikuti petunjuk pemakaian.

#3. Tahap Pengkawinan Ikan Patin

Setelah ikan patin diberi hormon perangsang, langkah selanjutnya adalah tahap perkawinan. Setelah dilakukan metode kawin suntik ini, maka indukan patin betina akan terangsang untuk mengeluarkan telur-telurnya dan selanjutnya akan dibuahi oleh indukan patin jantan.

#4. Tahap Penetasan Telur Ikan Patin

Begitu induk jantan selesai membuahi telur maka tahap selanjutnya adalah penetasan telur yang biasanya memakan waktu sekitar 4 haari. Anda harus memperhatikan kualitas dan kondisi air selama masa penetasan telur ini.

#5. Perawatan Larva Ikan Patin

Tahap selanjutnya adalah perawatan larva telur yang baru saja menetas. Berikut ini treatment yang mesti anda lakukan:

  • Begitu telur sudah menetas semau segera pisahkan dengan indukan. Masukkan lava ke dalam akuarium yang berisi air sumur dan dilengkapi dengan aerator. Kepadatan benih di akuarium dapat mencapai 500 ekor untuk akuarium berukuran 80 x 45 cm.
  • Pasangkan heater agar suhu bisa stabil
  • Beri makan lava setelah berusia 3 hari. Anda bisa memberi makan berupa emulsi dari kuning telur ayam yang telah direbus. Selanjutnya setelah larva cukup besar bisa diberi pakan tambahan berupa makanan hidup seperti jentik nyamuk atau kutu air.
#6. Pendederan Ikan Patin

Tahap selanjutnya adalah pendederan, yakni perawatan ikan yang sudah mulai menjadi benih yang siap di pindahkan ke dalam kolam tebar atau kolam bak dengan dasar tanah/lumpur. Kalau bisa, kolam pendederan ini juga sudah anda pupuk dengan kompos, seperti perawatan pada kolam persiapan yang sudah saya jelaskan di atas.

7# Pemanenan Benih Ikan Patin

kira-kira ukuran benih sudah mencapai ukuran 10-20 cm, maka benih sudah siap untuk dipindahkan untuk pembesaran.

3. Tahap Pembesaran Ikan Patin

Setelah bibit ditebar, maka proses selanjutnya adalah kita fokus membesarkan ikan patin sampai siap konsumsi. Untuk ukuran siap konsumsi sendiri tergantung pada permintaan pasar. Biasanya ukuran mulai dari 200 gr sampai 1 kg per ekor.

Pemberian Pakan Ikan Patin

Setelah benih ditebar, biarkan dulu ikan puasa. Anda bisa memuasakan ikan selama 1 atau 2 hari saja, tetapi ada juga petani yang memuasakan ikan sampai 3 hari. Silahkan anda sesuaikan dengan kondisi ikan, karena pada kolam sudah terdapat pakan alami dari palnkton yang sudah kita buat sebelumnya dari hasil pemupukan.

Selanjutnya, beri pakan secukupnya sebanyak 3 kali sehari dengan takaran 30% dari bobot tubuhnya. Berjalan selama 2 minggu, kemudian lakukan pemeriksaan bobot ikan dengan cara menangkapnya dan timbang, lalu pemberian pakan bisa ditingkatkan sesuai dengan bobot tubuhnya. ulangi setiap 2 minggu sekali hingga tiba masa panen.

Pastikan pakan yang anda berikan adalah pakan yang berkualitas ya!

Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan Patin

Tidak bisa dipungkiri, ikan patin juga bisa diserang oleh hama atau penyakit. Hama yang sering mengganggu misalnya kucing, bebek, dll. Anda bisa mengatasi hama ini dengan cara memberikan jaring pada kolam.

Selain itu, ada juga penyakit yang bisa menyerang ikan, namun jarang terjadi jika sirkulasi air bagus. Namun biasanya, penyakit yang menyerang ikan patin tidak menular, sehingga anda tidak perlu khawatir akan mengganggu ikan lainnya.

Masa Panen Ikan Patin

Ketika masa panen tiba, usahakan untuk tidak membiarkan patin melebihi ukuran 1 kg, karena pada bobot tersebut makan patin akan lebih rakus sehingga akan mengurangi keuntungan.

Analisis Usaha Ikan Patin

Sebelum anda memutuskan untuk membudidayakan ikan patin tentu anda harus sudah memiliki perhitungan, berbeda kalau andan melakukan budidaya ikan patin ini untuk konsumsi pribadi, tentu anda tidak terlalu memperhitungkan keuntungan priba.

Biaya pertama yang akan anda keluarkan adalah untuk persiapan kolam baik itu semen atau terpal. Untuk kolam terpal membutuhkan dana pada kisaran 250.000 saja, sudah termasuk terpal, kayu, paku, pipa, karet dll.

Jika anda menggunakan kolam beton tentu saja biaya yang dikeluarkan lebih besar, mulai dari semen, pasir, besi (lebih kuat), pipa, upah tukang dll. Estimasi biaya yang dibutuhkan bisa mencapai 2 juta rupiah. Namun tentu saja proses perawatan kolam beton lebih mudah.

Biaya yang anda keluarkan selanjutnya adalah untuk benih atau bibit. Katakan saja anda membeli bibit dengan ukuran 3 inch dengan harga Rp 500 per ekornya. Dengan kebutuhan bibit sebanyak 2.500 ekor, maka total biaya untuk membeli bibit sebesar Rp.1.250.000.

Biaya yang anda keluarkan selanjutnya adalah untuk pakan. Dimana pada bulan pertama anda membutuhkan sekitar 10 kg pakan, dengan harga sekitar Rp.12.000 per kilogram, total Rp.120.000.

Bulan berikutnya membutuhkan sekitar 30 kg dengan ukuran sedang, seharga Rp. 11.000 perkilo. Jadi todal biaya pakan pada bulan kedua ini sekitar 330.000.

Bulan ketiga biasanya akan membutuhkan pakan sekitar 60 kg. Anda bisa membeli pelet yang sekilonya Rp.6.000, maka keseluruhan biaya untuk bulan ketiga adalah Rp.360.000. Semakin besar ukuran ikan akan semakin membutuhkan banyak makanan.

Mulai bulan keempat, cobalah secara bertahap berikan makanan alternatif pengganti pelet hingga biaya pakan ikan pada bulan keempat dan kelima stabil pada kisaran Rp.360.000.

Total pengeluaran untuk biaya pembelian bibit dan pakan ikan selama 5 bulan adalah Rp.2.780.000. Kemudian anda tambahkan juga untuk biaya perawatan, listrik, beli obat, dll sekitar 1000.000.

Kemudian, mari kita hitung hasil panennya. Setelah memasuki usia 5 bulan, maka biasanya bobot ikan patin sudah mencapai 300 gram, anda biasa panen dengan perhitungan sebagai berikut. Panen keseluruhan 2.500 ekor dengan berat per ekor 300 gram, maka total berat panen diperkirakan mencapai 750.000 gram atau 750 kg.

Untuk penyusutan bibit yang mati, kita akan menganggap panen sebanyak 700 kg saja. Dengan asumsi harga pasar ikan sebesar Rp.13.000 per kilogram maka total harga mencapai Rp.9.100.000.

Keuntungan berupa total penjualan dikurangi total biaya sebesar Rp.6.320.000. Apabila anda melakukan budidaya ikan patin untuk mendapatkan hasil yang besar, maka anda akan memerlukan skala budidaya yang lebih besar lagi.

Anda tentu tidak ingin sekali panen saja bukan? Maka dari itu, agar panen anda bisa berkelanjutan dan lebih besar lagi, maka anda harus membudidayakan ikan patin ini dalam sekala besar, misal dalam 10 kolam sekaligus.

****

Demikianlah informasi mengenai panduan cara ternak patin yang bisa kami rangkum untuk anda. Semoga membantu! Artikel terkait: Panduan Cara Budidaya Ikan Kerapu

loading...
loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *